Oleh : Chiriyah Indriyati Putri
SAAT BERANJAK DEWASA, Abu Nawas membantu pamannya bekerja sebagai pembuat minyak wangi.
Di sela-sela itu, ia rutin pergi ke masjid untuk memperdalam ilmu agama, mulai dari fikih, hadis, hingga syair. Ia dikenal cerdas dan sangat bersemangat dalam belajar.
Bakatnya dalam membuat syair membuatnya dikagumi Abu Usamah, seorang pujangga ternama.
Dari sanalah kemampuannya semakin terasah.
Selain cerdas, Abu Nawas juga dikenal jenaka, terlebih saat ia menjadi staf ahli Khalifah Harun Al-Rasyid.
Suatu hari, ia memicu kehebohan di kalangan warga Baghdad karena berjalan di siang bolong sambil membawa dan menggoyangkan lampu minyak, membuat banyak orang menganggapnya gila.
Ketika ditanya, ia santai menjawab bahwa dirinya sedang mencari neraka.
Perilakunya itu terus berulang hingga akhirnya ia ditangkap, karena ada aturan yang melarang orang gila berkeliaran.
Musuh politik khalifah bahkan senang melihatnya ditahan, berharap hal itu bisa menjatuhkan wibawa Harun Al-Rasyid.
Saat dihadapkan kepada khalifah, Abu Nawas tetap tenang. Ia meminta orang-orang yang menuduhnya gila dikumpulkan, lalu bertanya apakah mereka sering menganggap orang lain yang berbeda pandangan sebagai munafik dan sesat.
Mereka serempak membenarkan, bahkan menyebut orang munafik pasti masuk neraka. Di situlah Abu Nawas membalik keadaan.
Ia bertanya, jika neraka milik Allah dan berada di akhirat, mengapa manusia di dunia begitu mudah memastikan orang lain masuk neraka? Apakah mereka merasa tahu keputusan Allah?
Jawaban itu membuat khalifah tertawa.
Dengan nada bercanda, Harun Al-Rasyid bahkan menyuruh Abu Nawas melanjutkan “mencari neraka” esok hari. Dan jika ketemu, ia boleh saja memasukkan orang-orang yang gemar menghakimi tadi ke dalamnya.
artikel ini disadur dari : mozaik.inilah.com


