![]() |
| Karikatur : osc.medcom.id |
Oleh : Choiriyah Indriyati Putri
SUATU KETIKA Raja Harun Al-Rasyid memanggil Abu Nawas ke istana dengan niat mengujinya. Sang raja memberi perintah aneh, “Aku ingin enam lembu berjenggot yang bisa berbicara. Kau punya waktu satu minggu. Jika gagal, nyawamu jadi taruhannya!”
Abu Nawas menerimanya dengan tenang. “Hamba patuh, Tuanku,” jawabnya singkat, meski orang-orang istana dalam hati yakin ia tak akan selamat dari tantangan mustahil itu.
Selama hampir sepekan, Abu Nawas mengurung diri di rumah sambil memutar otak. Hingga pada hari terakhir, ia keluar dan mendatangi kerumunan orang.
Ia bertanya kepada beberapa pemuda, “Hari ini hari apa?” Anehnya, tak satu pun jawaban mereka sama.
Keesokan harinya, Abu Nawas membawa enam orang itu ke istana. Di hadapan raja, ia berkata, “Inilah enam lembu berjenggot yang pandai berbicara, Tuanku.”
Raja terkejut. “Apa maksudmu, Abu Nawas?”
“Tanyalah mereka, hari ini hari apa,” ujarnya santai. Saat raja bertanya, keenam orang tersebut memberikan jawaban berbeda-beda.
Abu Nawas pun berkata, “Jika mereka benar manusia, tentu tahu hari ini hari apa. Namun jawaban mereka kacau. Jadi, manusia atau lembu sebenarnya mereka ini?”
Raja terdiam, lalu tersenyum kagum melihat kecerdikan Abu Nawas. Alih-alih dihukum, ia justru mendapat hadiah 5.000 dinar atas kepintarannya keluar dari ancaman dengan cara yang jenaka. (*)
artikel ini dilangsir dari : mozaik.inilah.com


