JAMBITERBIT.COM, JAKARTA - Tiga Hari menuju sidang perdana gugatan sengketa hasil
Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK), sembilan hakim MK mendapat
pengawalan ketat. Pengamanan para hakim itu ditingkatkan dari
biasanyanya, antara lain berupa patroli di rumah tinggal.
"Kami memang menambahkan pengamanan untuk para hakim konstitusi
menjelang sidang pendahuluan hasil sengketa Pemilu 2019," kata
Sekretaris Jenderal MK Guntur Hamzah di Gedung MK Jakarta, Senin
(10/6/2019).
Guntur mengatakan pengamanan standar harian untuk tiap-tiap hakim
konstitusi berupa dua personel satuan ADC (aide-de-camp) dan seorang
polisi patroli dan pengawal (patwal).
"Namun kali ini kami tambahkan berupa patroli di kediaman masing-masing
hakim, serta di rumah tinggal hakim konstitusi di daerah," ujar Guntur.
Keamanan tersebut dikatakan Guntur sudah ditingkatkan sejak akhir Mei 2019 dan akan selesai pada Jumat (9/8).
Sementara itu untuk keamanan di lingkungan gedung MK, Guntur mengatakan
MK telah bekerja sama dengan pihak kepolisian. "Terdapat tiga shift
pengamanan dari kepolisian, masing-masing shift terdiri dari 30 orang
anggota polisi dan polisi wanita," ujar Guntur.
Lebih lanjut Guntur menjelaskan untuk pengamanan menjelang sidang
pendahuluan sengketa hasil Pemilu Presiden, MK akan meningkatkan
pengamanan di sekitar gedung MK.
"Namun berapa jumlah personel anggota kepolisian yang akan ditambahkan
saya tidak tahu, karena itu merupakan kewenangan Kepolisian RI yang
lebih mengetahui proyeksi atau kondisi di lapangan," pungkas Guntur.
Netral
Sementara itu, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman menegaskan
para hakim MK akan netral dalam menghadapi sidang perdana perselisihan
hasil pemilihan umum (PHPU) untuk calon presiden dan wakil presiden
alias Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sidang perdana PHPU akan
digelar Jumat (14/6/2019) lusa. Anwar menegaskan independensi MK
merupakan hal yang wajib hukumnya.
"Siapapun yang mau intervensi, baik secara moril dan sebagainya, itu
tidak akan ada artinya bagi kami," kata Anwar di Gedung MK, Jakarta,
Senin (10/6/2019).
Anwar mengatakan MK hanya tunduk pada konstitusi dan hanya takut
kepada Allah SWT. Meski begitu, ia menegaskan MK tetap terbuka menerima
kritikan.
Anwar mengaku, saat ini MK sedang mendapat sorotan tajam pasca kubu
pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno,
mengajukan gugatan hasil pilpres. Oleh karenanya MK kerap mendapat
berbagai tudingan miring di media sosial. Namun ia mengaku tak terlalu
khawatir dengan hal tersebut.
"Bagi kami, kritikan itu, masukan. Itu obat bagi kami semua. Untuk
para hakim, untuk pak sekjen dan stafnya, panitera dan seluruh perangkat
pengadilan," tegasnya.
Ribuan Personil
Sementara itu Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo
Argo Yuwono mengatakan, guna mengamankan jalannya sidang sengketa
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, pihaknya sudah menyiapkan ribuan
personil polisi.
"Itu (jumlah personil) teknis ya, saya tidak bisa menyebutkan detail
jumlahnya, yang pasti ribuan personil polisi kami terjunkan," ujar Argo
kepada Harian Terbit di Jakarta, Selasa (11/6/2019).
Saat ditanyakan apakah polisi juga akan menyiapkan armada water
cannon, Argo memastikan meriam air bakal ikut disiapkan untuk
mengamankan sidang perdana yang akan berlangsung di gedung Mahkamah
Konstitusi (MK).
"Termasuk mengamankan hakim-hakim, masyarakat dan obyek vital
lainnya. Untuk jumlah (armada) water cannon, nanti kita lihat saja di
lapangan," pungkas Argo.
MK akan menggelar sidang perdana terkait permohonan sengketa
Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) yang telah didaftarkan kubu
pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
pada Jumat 14 Juni 2019 mendatang.
Sebelumnya, MK akan terlebih dahulu mencatat permohonan sengketa PHPU
dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi (BPRK) pada Selasa 11 Juni
2019. (Harian Terbit/Sammy/Danial)

