![]() |
| Abu Nawas. Foto : Tangkapan Layar Instgram |
Oleh : Hasna Fadhilah
SUATU HARI ada seorang laki-laki tua datang ke kedai teh. Wajahnya tampak bingung dan seperti sedang mencari seseorang. Rupanya ia sedang mencari Abu Nawas. Ia ingin mengadukan masalah pelik yang sedang dihadapinya.
Ia merasa tak dapat menemukan jalan keluar dari masalah itu. Ia sudah hampir putus asa dan tak tahu harus berbuat apa.
Salah seorang pengunjung kedai teh itu ingin mencoba menolong. Ia menanyakan masalah yang sedang dihadapi laki-laki tua itu. Laki-laki tua itu menceritakan masalah yang dihadapinya.
Ia mempunyai rumah yang sangat sempit. Sementara ia tinggal bersama istri dan delapan anak-anaknya. Rumah itu terasa terlalu sempit sehingga mereka merasa tidak bahagia. Suasana rumah tidak nyaman dan tidak memberi ketenangan.
Semua pengunjung kedai teh itu mendengarkan cerita laki-laki tua. Namun, tak ada seorang pun yang bisa memberi saran untuk orang itu. Akhirnya mereka menyuruh orang itu pergi mencari Abu Nawas. Kebetulan letak rumah Abu Nawas tidak jauh dari kedai itu. Orang itu pun pergi ke rumah Abu Nawas dan menceritakan masalahnya.
Setelah laki-laki itu selesai bercerita, Abu Nawas menanyakan apakah ia mempunyai seekor domba. Jika tidak, Abu Nawas menyarankan agar ia membeli seekor domba. Ia harus memelihara domba itu di dalam rumahnya. Orang itu menuruti saran Abu Nawas. Ia langsung pergi ke pasar hewan dan membeli seekor domba seperti yang disarankan Abu Nawas.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. Sekarang ia telah memelihara seekor domba di rumahnya. Namun, rumahnya justru bertambah sesak. Keluarganya merasa suasana rumah menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba. Mereka merasa sangat tersiksa.
Abu Nawas menyarankan agar orang itu memelihara beberapa unggas di rumahnya. Orang itu menuruti saran Abu Nawas. Ia lalu pergi ke pasar hewan untuk membeli beberapa ekor ayam dan itik dan ia memeliharanya di dalam rumah.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi ke rumah Abu Nawas. masalah di rumahnya menjadi semakin runyam. Setiap hari istrinya marah-marah. Anak-anaknya pun tak betah lagi tinggal di rumah. Orang itu semakin putus as. Ia berharap kali ini Abu Nawas memberinya jalan keluar yang terbaik.
Abu Nawas menyarankan agar orang itu membeli seekor anak unta dan memeliharanya di rumah. Lagi-lagi orang itu tidak membantah. Ia langsung pergi ke pasar hewan dan membeli seekor anak unta. Ia lalu memelihara anak unta itu di dalam rumahnya.
Beberapa hari kemudian ia mendatangi Abu Nawas kembali. Wajahnya semakin kusut. Masalah yang dihadapinya bertambah banyak. Ia sudah kehilangan harapan. Keadaan di rumahnya sekarang lebih mengerikan daripada hari-hari sebelumnya. Rumahnya menjadi kotor dan bau serta penuh sesak. Ia dan keluarganya sudah tidak tahan tinggal serumah dengan binatang-binatang itu.
Abu Nawas menyarankan agar orang itu menjual anak unta miliknya. Orang itu segera melaksanakan saran Abu Nawas. Ia langsung menjual anak unta yang ada di rumahnya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu. Ia ingin melihat keadaan mereka sekarang. Orang itu tampak tersenyum ketika menemui Abu Nawas. Orang itu bercerita bahwa keadaan merek sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak ada.
Rumahnya tidak terasa mengerikan lagi. Mereka merasa lebih bahagia. Abu Nawas lalu menyarankan untuk menjual unggas-unggasnya. Orang itu menuruti saran Abu Nawas. Ia pergi ke pasar hewan dan menjual unggas-unggasnya.
Beberapa hari kemudian, Abu Nawas kembali memintanya untuk menjual domba milikmya ke pasar hewan. Orang itu pun menjalankan saran Abu Nawas. Ia segera pergi ke pasar hewan untuk menjual domba miliknya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjunginya lagi. Orang itu menemui Abu Nawas dengan wajah berseri-seri. Ia mengatakan bahwa rumahnya sudah tidak penuh sesak lagi. Ia dan keluarganya merasa rumah itu bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak tinggal bersama mereka lagi.
Abu Nawas menjelaskan sebuah rahasia. Sebenarnya batas sempit dan luas itu ada dalam pikiran. Rahasianya ada pada rasa syukur kita. Bersyukurlah atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan menanam keluasan dalam hati dan pikiran kita.
Laki-laki tua itu tersenyum mendengar penjelasan Abu Nawas. Ia menyadari kesalahannya selama ini. Ia dan keluarganya tak pernah bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepada mereka. Kini ia bersama istri dan delapan anaknya dapat hidup berbahagia walaupun rumah mereka tidak lebih besar.
Namun, bagi mereka sekarang rumah sempit itu terasa luas.
artike ini dilangsir dari : hai bunda.com


