Abu Nawas dan Hakim yang Tamak

Foto : Istimewa
 

Oleh : Hasna Fadilah

PADA SUATU hari datang seorang wanita tua dan gelandangan ke rumah Abu Nawas untuk mengadukan masalah mereka padanya. Mereka kemudian menceritakan peristiwa yang telah menimpa mereka.

Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas meminta mereka datang kembali nanti malam bersama teman-temannya dengan membawa cangkul, kayu, kapak, martil, dan batu.

Wanita tua dan pemuda gelandangan itu merasa heran dengan pesan Abu Nawas. Namun, mereka begitu percaya kepada Abu Nawas. Mereka yakin Abu Nawas dapat memecahkan persoalan yang mereka alami. Abu Nawas selalu membela orang yang lemah. Mereka percaya karena mereka berada di pihak yang benar.

Pada malam harinya, wanita tua dan pemuda gelandangan datang bersama teman-temannya. Jumlah mereka sangat banyak. Mereka datang sambil membawa benda-benda yang diminta Abu Nawas. Mereka berkumpul di depan rumah Abu Nawas menunggu perintah selanjutnya. 

Abu Nawas lalu menyuruh mereka untuk menghancurkan rumah Pak Hakim. Abu Nawas melarang mereka berhenti jika rumah itu belum benar-benar hancur. Semua orang keheranan mendengar perintah Abu Nawas. Namun, mereka tetap menuruti perintah itu. 

Orang-orang itu segera pergi menuju rumah Pak Hakim. Mereka berteriak-teriak sambil menghancurkan rumah Pak Hakim. Penduduk yang tinggal di sekitar rumah Pak Hakim tampak kebingungan. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. 

Penduduk pun berusaha mencegah perbuatan orang-orang itu. Namun, mereka tak mau berhenti melakukan pengrusakkan. Penduduk akhirnya hanya pasrah dan membiarkan mereka melakukan keinginannya.

Pak Hakim terkejut melihat banyak orang ingin merusak rumahnya. Pak Hakim segera keluar dari rumahnya dan menemui orang-orang itu. Pak Hakim sangat marah. Ia menanyakan siapa yang menyuruh merusak rumahnya. Mereka pun memberi tahu Pak Hakim bahwa mereka hanya disuruh oleh Abu Nawas. 

Setelah menjawab pertanyaan Pak Hakim, mereka bukannya berhenti, malah terus menghancurkan rumah tersebut hingga roboh dan rata dengan tanah. Pak Hakim tak berdaya melawan para perusak rumahnya. Jumlah mereka terlalu banyak.

Hatinya sangat dongkol karena tidak ada orang yang membelanya. Ia pun bertekad akan melaporkan kejadian ini kepada Raja. 

Keesokan harinya, Pak Hakim pergi ke istana untuk mengadukan kejadian semalam kepada sang Raja. Ia ingin Raja memutuskan perkara ini dengan bijaksana. Raja pun memerintahkan prajurit untuk memanggil Abu Nawas. 

Prajurit kerajaan segera menangkap dan membawa Abu Nawas ke istana. Abu Nawas memang sudah tahu akan dipanggil oleh Raja. Ia sudah mempersiapkan diri jika ditanya oleh Sang Raja. Ia pun bersikap sangat tenang. 

Raja menanyakan apakah Abu Nawas yang menyuruh orang-orang untuk merusak rumah Pak Hakim. Abu Nawas mengakui perbuatannya itu tanpa rasa takut sedikit pun. Raja bertanya mengapa ia melakukannya.

Abu Nawas lalu menjelaskan kepada Raja. Pada suatu malam, Abu Nawas bermimpi. Di dalam mimpi itu, Pak Hakim menyuruh Abu Nawas untuk menghancurkan rumahnya. Pak Hakim menginginkan rumah yang lebih besar dan lebih indah. Karena mimpi itulah maka Abu Nawas menghancurkan rumah Pak Hakim. 

Raja merasa heran. Raja menanyakan apakah ada aturan yang memperbolehkan seseorang melaksanakan perintah dari dalam mimpi. Dengan tenang Abu Nawas menjawab bahwa ia menjalankan aturan yang dibuat oleh Pak Hakim sendiri.

Wajah Pak Hakim seketika menjadi pucat mendengar jawaban Abu Nawas. Ia teringat akan perbuatannya kepada seorang pemuda belum lama ini. 

Raja menanyakan apakah benar Pak Hakim telah membuat aturan seperti itu. Pak Hakim tidak menjawab. Tubuhnya gemetaran karena rasa takut. Ia sadar telah melakukan kesalahan.

Raja pun bingung dengan sikap hakim tersebut. Raja meminta Abu Nawas untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. 

Abu Nawas lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya. Pada suatu malam, seorang pemuda kaya bermimpi kawin dengan anak Pak Hakim. Di dalam mimpi ia membayar mas kawin agak banyak. Pak hakim mendengar kabar mimpi itu, ia segera mendatangi si Pemuda dan meminta mas kawin anaknya.

Tentu saja pemuda itu tak mau membayar mas kawin hanya karena mimpi. Namun, Pak Hakim merampas semua harta milik pemuda itu. Pemuda itu menjadi seorang gelandangan dan akhirnya ditolong oleh seorang wanita tua. 

Raja sangat terkejut mendengar cerita Abu Nawas. Ia memerintahkan Abu Nawas untuk memanggil si Pemuda. Raja ingin membuktikan bahwa Abu Nawas tidak berbohong.

Abu Nawas memang sudah menyuruh pemuda itu menunggu di depan istana. Abu Nawas segera memanggil pemuda itu ke hadapan Raja. Raja meminta pemuda itu menceritakan kejadian yang dialaminya. Ternyata, cerita pemuda itu sama dengan cerita Abu Nawas.

Raja sangat murka. Ia telah salah mengangkat hakim yang tamak dan sewenang-wenang. Hakim itu dipecat dan seluruh hartanya diberikan kepada si Pemuda.

Pemuda itu sangat senang karena hartanya sudah kembali menjadi miliknya. Ia ingin membalas kebaikan Abu Nawas yang telah menolongnya. Ia akan memberikan sebagian hartanya sebagai hadiah. Namun, Abu Nawas menolak pemberian pemuda itu. Ia menolong dengan tanpa pamrih. (*)

artikel ini dilangsir dari : haibunda.com

MIGAS
close
BREAKING NEWS
Loading berita terbaru...
Logo PWI
Logo PWI2