Setiap jelang Ramadhan dan Idul Fitri harga beberapa komoditas
seperti bawang merah, bawang putih, cabai, telur, daging ayam, daging
merah dan sayuran selalu bergejolak setiap. Dari tahun ke tahun, kita
selalu menghadapi persoalan yang sama, kita seperti tidak pernah
memiliki kemampuan untuk mengatasinya sehingga keadaan berulang. Lalu
dimanakah pusaran masalahnya?
Di berbagai daerah di Indonesia yang merupakan negara kepulauan ada
berbagai tradisi atau kebiasaan dalam menyongsong bulan Ramadhan dan
idul fitri misalnya di Jawa ada istilah Mapag Tanggal, di Cirebon dan
Jawa Barat ada istilah Cucurak, Meugang di Aceh, Tapur di Ambon dan
lain-lain yang semuanya memerlukan perhatian khusus untuk
menyelenggarakan acara-acara dimaksud sehingga terganggunya materantai
distribusi untuk beberapa waktu karena masyarakat terkonsentrasi yang
berakibat pada melonjaknya harga-harga kebutuhan tersebut. Disinilah
diduga munculnya spekulan yang memanfaatkan keadaan ini untuk bisa
meraup keuntungan yang lebih tinggi.
Indonesia Halal Watch sebagai organisasi yang concern dalam mengawasi
kebijakan atau policy halal, tertarik untuk memberikan masukan kepada
pemerintah agar melakukan reorientasi kebijakan agar mampu mengatasi
keadaan ini, yang kami sebut sebagai policy halal atau konsep kebijakan
halal sehingga menjadi terang dimana muara persoalanya.
a. Apakah pasokan terhadap komoditas terserbut mengalami penurunan?
Disini kementrian pertanian dan perdagangan perannya sangat vital dan
menentukan, seberapa besar pasokan dari dalam negeri dapat memenuhi
kebutuhan di bulan yang penting tersebut.
Kementrian Pertanian harus
menghitung besarnya kebutuhan masyarakat atas barang-barang komoditas
pokok tersebut, per orang per hari sehingga dapat dihitung perkiraan
kebutuhkan yang mendekati angka ril.
Misal, satu orang dua buah cabe dan
satu siung bawah putih dan satu siung bawang merah di kali per hari di
kali 250 Juta penduduk sehingga bisa diperkirakan jumlah yang harus
disiapkan ketersediaan untuk masing-masing komoditas tersebut.
Kementrian Pertanian yang harus menggerakan para petani untuk memacu
produksi dan kewajiban menteri perdagangan untuk membeli hasil produksi
petani tersebut yang dilakukan melalui Bulog sekaligus menyiapkan Buffer
Stock sehingga terjaga besarnya pasokan dan kemungkinan lonjakan
permintaan.
Dengan demikian secara otomatis dapat menekan guncangan harga dan
importasi terhadap barang-barang komoditas tersebut, juga dapat menekan
angka importasi, yang dapat menekan inflasi dan tekanan terhadap rupiah.
b. Apakah tingkat konsumsi masyarakat meningkat atas komoditas tersebut?
Melihat tren pola makan yang berubah pada bulan Ramadhan dan dari tiga
kali sehari menjadi 2 kali sehari yaitu makan Sahur dan Buka puasa,
seharusnya tren terhadap konsumsi komoditas andalan tersebut juga
menurun tidak meningkat sehingga pola relasi bahwa kebutuhan atas
komoditas tersebut meningkat pada bulan Ramadhan dapat di bantahkan,
asalkan jumlah pasokan tersebut continuous dan terstock dalam
gudang-gudang yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menjaga
kelancaran distribusi.
c. Apakah kita sebagai negara besar dengan penduduk besar tidak memiliki buffer stock?
Sejauh ini Kementrian Perdagangan tidak memiliki pergudangan yang baik
sehingga tidak dapat di Monitor berapa stock yang tersedia karena tidak
memiliki buku gudang atau Inventory Stock, sehingga perencanaan
penyediaan kebutuhan hanya didasarkan atas perkiraan. Sebagai negara
besar dengan penduduk besar, buffer stock dalam bentuk gudang dan buku
gudang untuk semua komoditas wajib dilakukan
Saat ini keadaan dan data gudang cenderung terabaikan, ini hasil
dengar pendapat antara Komisi VI DPR RI dengan Kementrian Perdagangan yg
terungkap beberapa waktu lalu. Akibatnya komoditas tersebut menjadi
bahan spekulan para pemodal untuk ikut memainkan harga komoditas
tersebut di pasar.
d. Apakah terdapat kebiasaan masyarakat yang panik ketika menghadapi
Ramadhan dan idul fitri sehingga harus membeli banyak untuk jenis
komoditas tersebut (buying panick)?
Menghadapi awal Ramadhan dan persiapan Idul Fitri masyarakat Indonesia
memang cenderung untuk menyambut dan mempersiapkannya dengan baik dan
penuh sukacita didahului dengan persiapan menyetok beberapa komoditas
tersebut untuk satu hari hingga satu pekan.
Inilah yang harus
diantisipasi lonjakan permintaan di awal-awal Ramadhan dan satu pekan
menjelang dan sesudah idul fitri pasokan atas komoditas tersebut harus
terjaga dan distribusinya dapat dipastikan sampai ke pasar tradisional
sehingga lonjakan dan kelangkaan atas komoditas tersebut dapat
dihindari.
Masyarakat bersyukur pada Ramadhan tahun ini Kementrian Pertanian
sangat sigap mengatasi gejala kekurangan pasokan atas daging ayam,
bawang merah dan bawang putih sehingga lonjakan dan kepanikan pasar
dapat diatasi dengan melakukan penetrasi pasar atas jenis komoditas
tersebut dngan melakukan importasi atas barang-barang komoditas tersebut
dan harga-harga dapat ditekan sehingga tidak terjadi lonjakan kenaikan
harga
Beberapa poin tersebut diatas adalah sebuah pemikiran yang dapat
dijadikan pertimbangan untuk menyusun kebijakan strategis bagi
kementrian pertanian dan kementrian perdagangan sehingga masyarakat
Indonesia khususnya umat islam dapat memperoleh kenyamanan dan keamanan
atas barang-barang komoditas dimaksud. (*)

