Buwas Tegas Tolak Impor Beras
![]() |
JAMBITERBIT.COM, JAKARTA - Rencana impor beras
yang digadang-gadang Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita terus
mendapat penolakan. Salah satunya dari Dirut Perum Bulog Budi Waseso.
Buwas sapaan akrab Budi Waseso tegas menolak impor beras. Menurutnya,
sampai Juni 2019 cadangan beras pemerintah aman, sehingga Indonesia
tidak perlu melakukan impor beras.
Dalam konferensi pers di Kantor Perum Bulog Jakarta, Rabu, ia
menyebutkan sudah membuat tim dari berbagai pihak, baik ahli independen,
Kementerian Pertanian, serta jajaran Bulog sendiri, untuk menganalisa
kebutuhan dan kondisi perberasan nasional.
"Tim mengatakan rekomendasi sampai Juni 2019, tidak perlu impor. Bahkan
dimungkinkan beras cadangan impor dari Bulog tidak akan keluar. Tinggal
menjaga. Masa kita harus bertahan pada impor?" ujar Buwas.
Buwas menyebutkan bahwa saat ini cadangan beras di gudang Bulog
mencapai 2,4 juta ton. Jumlah tersebut belum termasuk dengan beras impor
yang akan masuk pada Oktober sebesar 400 ribu ton sehingga total
cadangannya menjadi 2,8 juta ton.
Dari total cadangan tersebut, Bulog memperhitungkan kebutuhan untuk
beras sejahtera (Rastra) hanya akan terpakai 100 ribu ton. Dengan
demikian, total stok beras yang ada di gudang Bulog hingga akhir
Desember 2018 sebesar 2,7 juta ton.
Jika ditambah dengan serapan gabah dari dalam negeri sebesar 4.000 ton
per hari (pada musim kering), Buwas memperkirakan stok akhir bisa
mencapai tiga juta ton.
Ia juga meyakini dengan posisi stok akhir Desember ditambah dengan
serapan gabah hingga Juni 2019, Indonesia tidak perlu impor beras.
"Saya ga mau lagi berpolemik mau atau tidak impor. Karena ada analisa
tadi tidak perlu impor, maka kebutuhan sampai Juni 2019 aman," kata
Buwas.
Ia menambahkan bahwa data kebutuhan beras Indonesia sebesar 2,4-2,7
juta ton per bulan memang perlu dipertanyakan. Dari data tersebut,
tercatat bahwa setiap orang mengonsumsi beras sebanyak 130 kg per tahun.
Data tersebut menurut Buwas menjadi rancu dan mengakibatkan asumsi
bahwa kebutuhan beras lebih banyak dari yang seharusnya.
"Berarti bayi juga sama? Ini tidak dibagi-bagi ke usianya berapa,
dipukul rata, maka asumsinya menjadi 2,7 juta ton. Akhirnya dihitung
produksi kita selalu tidak pernah cukup dengan kebutuhan," ujarnya. (Harian Terbit/Anugrah)
