Pondok Pesantren Sa'adatuddaren Jambi, Dari Rumah Kitab Menuju Kebahagiaan di Dua Negeri

Pondok Pesantren Sa'adatudaren.Foto Istimewa

 Prinsipnya bergeming, sekali Kitab Kuning tetap Kitab Kuning. Pembaharuan ditempatkan pada ekstra kurikulum.


MENTARI BARU SAJA menyembul di ufuk timur. Langit cerah. Hanya ada secuil mendung di langit. Cahaya sang surya menerpa embun di pohon kayu alkasia, membentuk butiran-butiran bak mutiara. Indah, berkerlipan. 

Jalanan masih sedikit basah. Jalanan lenggang belum ada anak-anak sekolah maupun pegawai negeri berangkat kerja. Hanya ada beberapa depot bensin dan warung kecil mulai sibuk. Satu dua pengecer koran hilir mudik di perempatan lampu merah.

Melintasi Jembatan Aurduri yang membelah Sungai Batanghari, suasana pedesaan mulai terasa. Beberapa pemuda tanggung bergerombol di pelataran rumah panggung bercorak khas Jambi.

Mereka tak terusik oleh raungan kilang kayu serta bau taksedap yang menyeruak dari sebuah pabrik pengolahan karet di tepi sungai.

Tampaklah sebuah pondok pesantren. Halamannya masih sepi. 

Seorang santri mengantarkan Rizal Ependi koresponden Majalah MEDIUM di Jambi menuju kediaman Muhammad Nazir HB, pengurus pondok. Nazir adalah keponakan pendiri pondok pesantren tersebut.

Pesantren ini berlokasi di tepi kota, 10 kilometer dari pusat Kota Jambi. Jika dari Sungai Batanghari hanya 2 kilometer. Tepatnya di Jalan Tumenggung Jakpar, RT. 01, RW. 01, Kelurahan Tahtul Yaman, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi. Pesantren ini banyak menelorkan ulama kesohor.

Pondok Pesantren Sa’adatuddaren adalah pusat pendidikan Islam tertua di Jambi. Dulu namanya kombinasi Bahasa Arab dan Inggris : Sa’adatuddaren Islamic School (Sekolah Islam Kebahagiaan di Dua Negeri). 

Nama itu disematkan oleh pendiri : Almarhum K.H. Ahmad Syakur bin Syukur alias Guru Gemuk. Julukan guru gemuk itu diperoleh dari masyarakat.  Sebutan kyai saat itu kalah populer dibanding sebutan guru. Tubuh kyai memang gemuk.

Pesantren ini mempertahankan kitab klasik atau kitab kuning. Untuk tingkatan Tsanawiyah dan Aliyah, tidak menerima santriwati.

Menurut Nazir, pada zaman dulu guru yang mengajar santriwati  biasanya bukan para kyai. Tapi mereka dididik oleh istri para kyai di rumah kyai.

Karena istri para kyai itu tak sempat lagi meluangkan waktu untuk mengajar, maka ketika itu, kaum hawa tidak diberi kesempatan untuk belajar di pesantren tersebut jika sudah tingkatan Tsanawiyah dan Aliyah. “Kalau tingkatan Ibtida’yah di sini masih mau menampung”, kata Nazir.

Kini santri berjumlah 1037 orang. Yang mondok untuk tingkat  Tsanawiyah 427 orang, untuk kelas satu, dua dan tiga yang ditampung dalam 14 kelas. 

Mereka dikenakan biaya Rp. 280 ribu pertahun, untuk uang sekolah, sewa pondok, plus Rp. 100 ribu per bulan untuk uang makan.

Biaya tadi tak berbeda dengan yang dikenakan pada santri tingkat Aliyah. Hanya saja jumlah santri untuk tingkat Aliyah hanya 137 orang untuk kelas satu, dua dan tiga yang terhimpun dalam 5 kelas.

Ruangan belajar pada pesantren ini berjumlah 23 kelas, tiap-tiap kelas berisi rata-rata 35 santri. Tiap santri berdampingan duduk satu meja dan kursi yang terbuat dari kayu. 

Bagi santri tingkatan Tsanawiyah dan Aliyah yang mondok membawa peralatan makan dan mendapat satu kamar yang dihuni 5 sampai 6 orang.

Tapi jumlah kamar pemondokan itu cukup banyak, saat ini jumlahnya mencapai 75 pintu. Dari jumlah tersebut dapat menampung sekitar 600 orang santri. 

Namun pesantren ini akan melakukan perombakan sarana baik ruang belajar maupun pemondokan, guna kemajuan pesantren itu sendiri.

Tingkat Ibtida’yah dari kelas satu sampai tiga, justru lebih banyak. Saat ini ada 437 orang putra-putri yang menempati 14 ruang belajar dan tidak mondok di pesantren. 

Biayanya lebih murah. Uang pendaftaran awal Rp. 10 ribu plus SPP sebesar Rp. 4000 perbulan. 

Biasanya penerimaan santri baru pada pesantren ini dilakukan setelah ujian akhir semester. Persyaratannya, untuk tingkat Tsanawiyah dan Aliyah seperti persyaratan sekolah biasa.

Pada pagi hari mulai belajar pukul 07.30 hingga 12.05 WIB. Sedangkan belajar malam, pukul 19.15 hingga 21.30 WIB. Pakaian juga diatur. 

Hari Minggu, Senin, dan Selasa diwajibkan memakai baju koko warna putih, kopiyah hitam dan pakai sarung.

Untuk hari Rabu dan kamis, pakai baju kurung, kopiyah putih juga mengenakan sarung warna bebas. 

Sedangkan untuk dua hari tersisa, para santri mengisi waktu dengan kegiatan yang masih berhubungan erat dengan proses belajar mengajar di pondok tersebut.

Ada juga ekstrakurikuler, seperti : belajar mengoperasikan komputer, seni letter dan kaligrafi, jama’atul Quro (Quran lagu), berzanji serta angkatan marhabah sarana dan organisasi. Adalagi kursus menjahit dan pagelaran seni.

Pesantren ini memang mengupas kitab kuning. Mata pelajaran pada pondok itu meliputi : quran, tauhid, pakeh, nahu, sorop dan tareh. Adalagi kowait, muthola’ah, hot dan imlak, ahlak, tajwid serta al-azhar.

Kemudian ditambah lagi dengan Bahasa Arab, tahtis juga mahfuzoh. Tapi kalau untuk tingkatan Aliyah, mata pelajaran itu ditambah lagi dengan : nuhu wede, tasauf, mantek dan hadis.

Para santri dibimbing oleh pengajar yang berasal dari Alumnus Gontor, Mesir dan Mekah sebanyak 56 orang.  Tapi 90 persen adalah alumni pondok itu sendiri. 

Biasanya setamat dari pondok mereka melanjutkan pendidikan ilmu kitab itu ke pesantren lain yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bahkan ada yang sampai ke tanah Suci Mekah atau tanah Arab lainnya. Lalu, kembali mengajar di pesantern itu. 

Namun para muridnyapun berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Palembang,  Padang, Pulau Jawa. Bahkan dari Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunai Darusasalam. Namun mayoritas berasal dari Provinsi Jambi.

***

Pondok Pesantren Sa’ adatuddaren berada di kawasan pemukiman penduduk. Luasnya kira – kira 35x15 meter. Bangunan utama bertingkat dan terbuat dari beton permanen yang dilapisi cat warna putih.

Pondok pesanteren dibangun di atas tanah wakap dari Almarhum K.H. Ahmad Syukur, seluas 2 hektar. Di sebelah kanan terdapat  sebuah mesjid. 

Mesjid Jami Azharussa’adah Tahtul Yaman. Juga terdapat bangunan tua, bekas gedung pondok lama yang sekarang telah beralih fungsi menjadi Kantor Sekretariat Pondok.

Di sebalah kiri berbatasan dengan rumah penduduk yang dipisahkan oleh pagar besi keliling bercat putih. Dapur umum, sumur dan wc dibangun semi permanen yang terletak di belakang gedung lama.

Adalagi bangunan menyerupai gudang yang dulunya pernah digunakan untuk ruang belajar. Sedangkan fasilitas lain seperti kantor majelis guru, laboratoriun  komputer, koperasi pelajar. 

Ruang OPPS (Organisasi Pelajar Pesantren Sa’addatudaren) serta tempat mencuci pakaian dan tempat setrika juga ada di sana. Ada juga kantin, sarana olahraga serta perpustakaan.

Jalan masuk ke lokasi pondok itu ada dua pintu masuk : Pintu utama yang terdapat dibagian depan dan pintu lainnya terdapat di bagian belakang tembus ke pemukiman penduduk.

Di depan seberang jalan terdapat sebuah bangunan terbuat dari kayu berukir, bercorak khas Jambi. 

Bangunan itu ialah Gedung Pondok Pesantren Mubarok yang masih satu atap dengan Pondok Pesantren Sa’adatuddaren.

“ itu juga gedung santri untuk belajar,” kata Hisbullah, kakak kandung pengurus pondok (Nazir) ketika ditemui di rumahnya.

 ***

Mesjid pondokMesjid Jami Asharussa’adah Tahtul Yaman penuh sesak oleh jemaah. Selesai solat Jumat, para jema’ah laksana semut bertemu temannya. 

Mereka saling bersalaman, dibibir masing-masing jema’ah tersungging senyum ramah penuh maaf. 

Kawasan pondok tertata rapi, dan bersih. Halaman pondok ditumbuhi rumput hijau, adalagi pohon pinang dan beberapa kayu liar yang sengaja dibiarkan tumbuh.

Syahdan. Dari cerita Nazir, setelah Sultan Thaha Syaifuddin gugur zaman Belanda. Seorang ulama Jambi lainnya, K.H. Abdul Majid merasa jiwanya terancam di Jambi. 

Ia kemudian  hijrah ke Mekkah, di sana ia menjadi guru dan mendidik para santri yang berasal dari berbagai negara termasuk dari Jambi.

Kebanyakan para santri asal Jambi pulang dan mendirikan pondok pesantren di kampung halamanya. 

Salah satunya adalah K.H. Ahmad Syakur bin Syukur alias Guru Gemuk yang kelak mendirikan Pondok Pesantren Sa’adatuddaren Tahtul Yaman.

Sedangkan gurunya tadi setelah pulang ke Jambi mendirikan Pondok Pesantren Nurul Iman di Ulu Gedong sekitar satu kilometer dari Pesantren Sa’adatuddaren.

Ikatan persaudaraan antara guru dan murid yang telah terajut di tanah suci itu tetap terjaga. 

Kemudian pada tahun 1909 kedua kyai tadi mempelopori terbentuknya wadah persaudaraan yang bernama  Samaratul Ihsan. 

Wadah inilah cikal bakal  Pondok Pesantren Sa’adatuddaren  yang berlokasi di Iskandaria Tahtul Yaman, atau Kelurahan Tahtul Yaman, sekarang.

Masih dalam tahun yang sama, wadah Simaratul Ihsan mengalami perkembangan menjadi kelompok pengajian dan mendirikan rumah kitab (Maktab) sebagai tempat berkumpulnya para santri untuk belajar ilmu agama Islam. 

Pada tahun  1915 Masehi atau 1333 Hijria, Guru Gemuk mendirikan Pesantren yang dinamakan Sa;adatuddaren Tahtul Yaman.

Menurut Nazir, nama pondok tersebut sarat dengan makna dan mengandung filosofi. Yang dimaksud dengan kebahgiaan di dua negeri itu adalah bahwa sekolah itu tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan akhirat saja, namun  juga kebahagiaan di dunia.

Walaupun Guru Gemuk anak seorang saudagar dimasa itu, dia mendapatkan kendala dalam membangun pondok tersebut. Dia telah mewakafkan tanah seluas 2 hektar, menjual ruko warisan orang tuannya. 

Sehingga harta warisan dari Syukur dan Hamida  orang tuanya habis sudah. Itupun belum cukup. Ia kemudian dibantu oleh para kerabat dan masyarakat setempat.

Bahkan dia  terpaksa jemput bola, setahun sekali pergi ke luar negeri untuk meminta bantuan dari teman-temannya. Tapi berkat usaha dan do’a banyak orang, akhirnya pondok itu jadi juga.

Tapi setelah pondok selesai, Guru Gemuk meninggal dunia. Dia wafat tahun 1923 dalam usia 47 tahun, Ia sempat memimpin pondok tersebut selama lebih kurang 8 tahun : dari tahun 1915 hingga 1923. 

Kemudian tampuk pimpinan diserahkan kepada K.H. Abdul Rahman. Namun dua tahun kemudian 1925, oleh beliau diserahkan kepada muridnya yang baru pulang dari  Mekah : Abubakar Syaifuddin.

Dimasa Abubakar inilah pondok mengalami kemajuan pesat, sampai-sampai santrinya melebihi kapasitas pemondokan. Pada masa ini (1925-1942) keharuman nama Sa’adatuddaren terdengar hingga ke manca negara.

Namun roda selalu berputar, tahun 1942 pondok tersebut mulai mengalami bermacam cobaan. Masuknya Penjajah Jepang membuat aktivitas pondok lumpuh total. Para guru banyak yang ditindas, intimidasi kepada seluruh elemen pondok merajalela.

Pimpinan pondok Abubakar Syaifuddin, pulang ke kampung halamannya di Desa Teluk Rendah, Kabupaten Tebo dan meninggal di sana dalam usia 63 tahun. 

“Waktu itu guru –guru banyak yang berlari ke hutan  dan santrinya hanya tinggal tiga orang”, kata Nazir.

Setelah itu tampuk pimpinan dipegang K.H. Muhammad Zuhdi alias Guru Zuhdi, lalu K.H Abdul Madjid (Menantu Guru Gemuk). 

Pada 1955 pondok dipimpin K.H. Zaini bin Abdul Qodir, setahun kemudian dipegang oleh K.H. Ahmad Jadawi (Anak K.H. Abubakar Syaifuddin).

Ahmad Jadawi ini guru yang mengusai empat bahasa : Bahasa Arab, Inggris, Belanda dan Jerman. Dia memimpin pesantren sekitar 25 tahun (1956-1989), dan dialah pemimpin terlama sepanjang sejarah pondok itu. 

Setelah beliau wafat tahun 1989 tampuk pimpinan diserahkan kepada  Guru Abdul Qodir Mahyuddin (Keponakan Guru Gemuk) selam 13 tahun.

Mengingat usianya sudah senja, maka dari tahun 2003 hingga sekarang tampuk pimpinan pesantren tersebut dipegang oleh Guru Helmi Abdul Madjid, yang masih anggota kerabat dari pendiri pondok.

Pada masa sekarang, dengan majunya teknologi informatika, pesantren itu harus beradaptasi  dengan zaman. 

Jadi walaupun mejelis guru sepakat menambah kurikulum pembelajaran, namun tidak memasukkan mata pelajaran tersebut pada kurikulum inti.

Rupanya ciri khas pondok untuk terus menggali kitab kuning tetap dipertahankan, sekali kitab kuning tetap kitab kuning. ( Laporan : Rizal Ependi - Jambi  )

Tulisan ini telah terbit di Majalah Medium Jakarta Tahun 2005. 

Rubrik: Perjalanan

 


Diberdayakan oleh Blogger.