Mesjid Agung Alfalah Jambi, Mesjid Seribu Tiang di Tanah Pilih

foto : ist
 Mesjid ini tak berdinding sama sekali. Dibangun di atas sebidang tanah bekas Kerajaan Melayu. Merupakan mesjid terbesar di Kota Jambi yang sarat sejarah.

MESJID Agung Alfalah Jambi memiliki arsitektur yang sangat unik. Dikatakan unik, karena mesjid ini tidak berdinding sama sekali. Arsitektur  mesjid yang terletak di Jalan Sultan Thaha itu dicanangkan oleh studio “T” Bandung. 

Pembangunannya dikerjakan oleh tangan –tangan professional yang tergabung dalam PT Waskita Cabang Besar Jambi. 

Selain tak memiliki dinding,  keunikan lain yang dimiliki mesjid ini karena memiliki banyak tiang. Maka oleh masyarakat Jambi mesjid tersebut dikenal dengan sebutan mesjid seribu tiang.

Ketika magrib tiba, Suara azan melengking parau dari pengeras suara di atas menara. Dari kejauhan kaum muslimin mulai berdatangan. Ada yang pergi berwudu, sebagian telah berada di dalam mesjid sedang  menunggu solat maghrib berjemaah dimulai.

Lapat-lapat terdengar suara qomat, para jemaah berdiri membentuk shaf. Jemaah laki-laki berada di bagian depan mesjid, sedangkan jemaah perempuan di ruangan belakang yang pisahkan oleh kain pembatas. Saat itu jemaah hanya mengisi deperempat dari ruangan mesjid. 

Meski demikian solatpun berjalan dengan khusuk. Selesai solat, baisanya di mesjid itu diadakan pengajian, solat tarawih dan tadarusan kalau bulan ramadhan.

Menurut pengurus Mesjid, (A) menjelaskan, mesjid yang berkapasitas 10 ribu jemaah itu dibangun dengan  konstruksi beton cor. Luas mesjid 6.400 meter persegi yang dibangun di atas sebidang tanah seluas 2,7 hektar. Mesjid itu beratap seng setinggi 24 meter dari lantai bawah ke kuba. 

Mesjid ini hanya memiliki  sebuah kuba besar yang disangga 252 tiang yang terbuat dari beton cor  serta dikelilingi pagar besi bercat  putih.

Seperti pada umumnya, di mesjid ini terdapat juga fasilitas seperti beduk. Ukuran beduk di mesjid ini cukup besar, hampir dua kali besar drum minyak tanah. Beduk tersebut terletak dibagian belakang  dalam mesjid.  

Sementara di bagian depan terdapat sebuah mimbar berukir warna kecoklatan, ada juga sebuah jam besar serta kaligrafi ayat-ayat alquran tersurat di sisi kiri dan kanan alang penyangga kuba dalam mesjid tersebut.

Sedangkan menara mesjid ini terletak di sebelah kanan. Menara setinggi 38 meter itu terbuat dari beton cor permanen. 

Disamping  kiri mesjid terdapat sebuah sekolah dasar (SD) Alfalah, yang bersebelahan  dengan kantor pusat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mayang. 

Kalau disamping kanan bersebelahan dengan taman kanak-kanak (TK) Alfalah, gedung Islamic School serta  perumahan para Imam dan  pengurus mesjid.

Pembangunan mesjid yang di sisi depannya terdapat sebidang tanah luas menyerupai hutan belukar itu, dibangun secara bertahap selama 10 tahun. 

Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprop) Jambi, tepat pada 6 Januari 1971. Sedangkan rampung pembangunan rumah ibadah tersebut pada 17 September 1979.

Bukan hanya waktu pembangunannya yang lama, mesjid ini juga menelan biaya tidak sedikit. Total keseluruhan dana anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) yang tenggelam di mesjid tersebut hampir satu miliar, yakni Rp.743.139.991. 

Biaya itu  belum termasuk biaya perehaban dan perawatan setiap hari. Ada lagi pembangunan gedung Islamic School  seluas  49 M2, serta perumahan para Imam mesjid sebesar Rp. 9. 506. 000. Gedung inipun dibangun pada tahun 1991 hingga 1992.

Dibangun di atas tanah pilih

Pada tahun 1909, ketika itu berkecamuk perang antara Kerajaan Pagaruyung dengan  Kerajaan Majapahit. 

Ketika itu seorang putri keturunan Raja Aditiya Warman: Putri Selaras Pinang Masak, yang saat itu berada di KerajaanPagaruyung, hendak pulang kampung ke Kerajaan Melayu. Putri tersebut pulang dengan menggunakan perahu lewat sungai Batanghari.

Sebelum pulang, sang putri melepaskan sepasang angsa putih di Siguntur, ulu sungai tersebut. Sambil melepas sepasang angsa tersebut, putri berniat, di manapun sepasang angsa itu  menepi, maka di situlah sang putri akan mendirikan Istana dan Pusat Kerajaan. 

Setelah  beberapa hari berlayar, ternyata sepasang angsa putih tersebut menepi di  -saat ini-  Jalan Sultan Thaha Syaifuddin, dalam kawasan Kecamatan Pasar, Kota Jambi.

Putripun turun dan melaksanakan niatnya tadi. Maka sejak saat itu, kawasan tempat sepasang angsa putih menepi itu disebut kawasan tanah pilih.

Tidak berapa lama tersiar kabar sang putri berhasil mendirikan Istana dan Pusat Kerajaan dan beliau menjadi raja termashur. 

Putri kemudian menikah dengan seorang perjaka asal Turki bernama Ahmad Barus II. Ahmad Barus inilah yang oleh masyarakat Jambi dewasa ini dikenal dengan nama  Datuk Paduko Berhalo. 

Dalam masa kejayaannya maka kerajaan yang didirikan istrinya tersebut dikenal dengan Kerajaan Putri Jambe. Setelah Datuk wafat, oleh keluarga serta pengikut setiannya Datuk dimakamkan di Pulau Berhala.

Namun malang bagi kerajaan itu, Pada tahun 1885, Belanda melancarkan anggresinya. Kemudian Kerajaan Putri Jambe berhasil ditaklukan Belanda, sedangkan istana sang putri -oleh Belanda- dijadikan benteng pertahanan perang. 

Sedangkan seluruh wilayah kerajaan diambil alih serta dijadikan pusat pemerintahan serdadu kompeni.

Tapi setelah Indonesia merdeka,  kawasan tanah pilih kembali kepangkuan pribumi berkat perjuangan putra-putri Jambi. Ketika tanah pilih berhasil direbut, maka para tokoh adat, cendikiawan muslim serta tuo-tuo tengganai di Kota Jambi saat itu berniat membangun sebuah mesjid. 

Pada Tahun 1979 niat para pemuka masyarakat itu terkabul. Mesjid tersebut dinamakan Mesjid Agung Alfalah yang diremikan oleh – ketika itu-  Presiden Soeharto. (Laporan Rizal Ependi - Jambi)  


Tulisan ini telah terbit di Majalah Alkisah Edisi : No.27 / Tahun lll / 28 Maret - 10 April 2005 / Rubrik Perjalanan / Halaman 144  

Penulis : Rizal Ependi



Diberdayakan oleh Blogger.